Selasa, 31 Maret 2020

makalah keramik



KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas kehendak-Nya lah kami selaku saya penulis bisa menyelesaikan makalah ini tepat padawaktunya.
Adapun maksud dan tujuan penulis membuat makalah ini , adalah untuk memenuhi salahsatu tugas dari mata kuliah Manajemen Konstruksi , dan juga untuk menambah wawasanmengenai karakteristik dari Manajemen konstruksi.Dalam pembuatan dan penyusunan makalah ini tentu saja penulis mengakui bahwamakalah ini masih jauh dari kesempurnaan , baik dari segi isi , teori , dan sistematika penulisannya  .  
 Maka dari itu karenabelum luasnyawawasan kami,kami sangatterbantu bila pembaca memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun dan dapatmenyempurnakan makalah ini dari segi manapun .
Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua baik untuk hari ini dan untuk masa yang akan datang .Amin .



















BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang 

Keramik telah di temukan sejak jaman dahulu,terbukti dengan ditemukan benda-benda sejarah yang terbuat dari tanah liat seperti guci-guci,wadah,perlengkapan tempat makanan,tempat air minum dan lain sebagainya.Keramik merupakan material organik non logam yang mengandung unsur logam dan non logam yang terutama berikatan ionik dan kovalen.mateial dari keramik tersebut mengandung tingkat perbadaan dalam ikatan kimi  Keramik pada proses pembuatannya memiliki beberapa tahap proses agar berhasil.proses pembuatannya memerlukan waktu yang cukup lama. Bahan pembuatan keramik terdiri dari tanah liat. Dari tanah liat tersebut lalu dapat diolah seperti menjadi batu bata,celengan,lantai yang terbuat dari keramik,piring,cobekan dan lain-lain.   Pada umumnya material keramik memiliki tekstur keras dan rapuh,dengan tingkat kekerasan yang rendah. Keramik adalah bahan isolator yang dan panas yang baik karena tidak ada elektron yang  terkonduksi. Material keramik memiliki titik leleh yang tinggi dan kestabilan kimia terhadap lingkungan yang tinggi karena tingkat kestabilan.

1.2. Ruanglingkup

Dalam makalh ini ,Dibahas terkait “Bahan keramik Pada Bangunan” Yang meliputi sifat sifat mekanik, Serta penerapan dan penggunaan keramik

1.3.Tujuan penulisan

Adapun tujuan dalam penyusun makalah ini, penyusun ingin memberi informasi mengenai sejarah perkembangan keramik dan proses pembuatanya untuk menambah wawasan dalam matakuliah pengetahuan bahan

1.4 Manfaat

a.Penulisan karya tulis ini diharapkan dapat bermanfaatbagi para mahasiswa Politeknik Negri Lhokseumawe serta referensi.
b.Penulisan karya tulis ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan dan cakrawala pemikiran pembaca pada umumnya.




BAB 2 SEJARAH PERKEMBANGAN KERAMIK

1.1 Sejarah Perkembangan Keramik

Keramik merupakan campuran padatan yang terdiri dari sebuah unsur logam dan nonlogam atau unsur logam dan nonlogam padat, gabungan dari unsur nonlogam dan unsur nonlogam padat, atau gabungan dari dua buah unsur nonlogam padat yang dibentuk dengan perlakuan panas (Barsoum, 1997). Dalam definisi yang lebih khusus lagi, keramik didefinisikan sebagai bahan inorganik yang merupakan pencampuran senyawa logam dan nonlogam dengan memberi perlakuan seperti pemanasan, pemberian tekanan sehingga memiliki sifat kuat, keras dan memiliki titik cair yang tinggi serta lambat terhadap proses kimia (Yet Ming Chiang et al, 1997).

Keramik pada awalnya berasal dari bahasa Yunani keramikos yang artinya suatu  bentuk dari tanah liat yang telah mengalami proses pembakaran. Kamus dan ensiklopedi  tahun 1950-an mendefinisikan keramik sebagai suatu hasil seni dan teknologi untuk  menghasilkan barang dari tanah liat yang dibakar, seperti gerabah, genteng, porselin, dan sebagainya. Tetapi saat ini tidak semua keramik berasal dari tanah liat. Definisi  pengertian keramik terbaru mencakup semua  bahan bukan logam dan anorganik yang berbentuk padat. Umumnya senyawa keramik lebih stabil  dalam lingkungan termal dan kimia dibandingkan elemennya. Bahan baku keramik yang umum dipakai adalah felspard, ball clay, kwarsa, kaolin, dan air. Sifat keramik  sangat ditentukan oleh struktur kristal, komposisi kimia dan mineral bawaannya. Oleh karena itu sifat keramik juga tergantung pada lingkungan geologi dimana bahan diperoleh. Secara umum strukturnya sangat rumit dengan sedikit elektron-elektron bebas. Kurangnya beberapa elektron bebas keramik membuat sebagian besar bahan keramik secara kelistrikan bukan merupakan konduktor dan juga menjadi konduktor panas yang jelek. Di samping itu keramik mempunyai sifat rapuh, keras, dan kaku. Keramik secara umum mempunyai kekuatan tekan lebih  baik dibanding kekuatan tariknya.

Kamus dan ensiklopedia pada tahun 1950-an mendefenisikan keramik sebagai suatu hasil seni dan teknologi untuk menghasilkan barang dari tanah liat yang dibakar, seperti gerabah, genteng, porselin, dan sebagainya. Seiring perkembangan dan kemajuan teknologi defenisi keramik berkembang tidak hanya pada penghasil barang dari tanah liat namun berkembang mencakup semua bahan bukan logam dan anorganik yang berbentuk padat.

 SEJARAH PERKEMBANGAN KERAMIK DI INDONESIA

Kepandaian membuat keramik di Indonesia sebenarnya sudah tua umurnya, sebagaimana halnya sejarah keramik diberbagai belahan Dunia, seperti China, Jepang, Mesir, Yunani, Korea, Thailand, Peru, Philipina, Vietnam dan lain sebagainya. Di mana ketrampilan membuat keramik tersebut muncul dan tumbuh secara alami, ada yang tumbuh dalam waktu yang bersamaan tanpa adanya pengaruh hubungan kebudayaan satu dengan lainnya. Kepandaian membuat keramik dapat dikatakan setua manusia mengenal api dan dapat memanfaatkannya.

Penemuan teknik membuat keramik atau pengetahuan mengenai sifat tanah liat yang mengeras setelah dibakar, diperoleh secara tidak sengaja oleh orang primitif pada zaman Pra-sejarah. Ralph Mayer dalam bukunya A Dictionary of Art Term and Techniques, menyatakan bahwa kebanyakan seni primitif dibuat dari kayu, batu dan tanah liat, yang diciptakan untuk beberapa tujuan relegi atau tujuan yang praktis (Mayer, 1969). Awal  mulanya keramik  dibuat cenderung sebagai “wadah”. Inspirasi pembuatan wadah tersebut berasal  dari pemanfaatan buah-buahan berkulit tebal seperti  labu, kelapa dan sebagainya, yang isinya dikeluarkan. Juga dari ruas-ruas pohon bambu, daun-daunan berukuran besar seperti daun pisang daun talas dan lainnya. Cekungan bekas telapak kaki dan batu pada tanah basah yang digenangi air hujan juga memberi inspirasi, dimana air yang tergenang tersebut dapat bertahan lama bahkan bisa berhari-hari lamanya. Berdasarkan kenyataan tersebut, suatu ketika orang memakai keranjang bambu yang dilapisi tanah liat sebagai tempat atau wadah cairan (liquid) dan wadah semacam ini tentu tidak bertahan lama. Secara tidak sengaja keranjang tersebut dibuang keperapian dengan maksud untuk dimusnahkan. Namun yang terjadi keranjangnya musnah, sedang tanah pelapis masih tersisa dan ditemukan mengeras dengan meninggalkan bekas anyaman keranjang. Dari pengalaman-pengalaman itulah, orang mulai dengan sengaja membentuk tanah liat secara utuh sebagai wadah dan untuk keperluan religi lainnya.

Dengan diketemukan tanah yang mengeras ini, secara tidak sengaja mereka telah menemukan keramik dengan  unsur dekorasinya sekaligus. Lebih lanjut hiasan diterapkan secara sengaja, yaitu menggunakan kulit kerang, kulit kayu, permukaan batu, tali, anyaman, serat tumbuh-tumbuhan, kain atau benda-benda keras lain yang bertekstur / bermotif, dengan cara mengecapkannya pada permukaan benda dalam keadaan masih basah (lembab) sebelum dibakar. G. Nelson, dalam bukunya yang berjudul Ceramics menulis bahwa suatu kenyataan yang ada pada benda-benda tembikar atau keramik masa Neolitik, tekstur yang banyak ditemukan adalah bekas anyaman (Nelson, 1960). Dengan demikian , jelas bahwa keramik lahir pada mulanya sebagai benda praktis dan sekaligus sebagai benda estetis.

Di Indonesia, keramik jenis gerabah dikenal sejak zaman Pra-sejarah atau zaman Neolitikum, yaitu pada tahun 3.000 sebelum Masehi, dimana manusia saat itu sudah mulai hidup menetap dan bercocok tanam serta membentuk kelompok-kelompok masyarakat. Sebagai masyarakat yang menetap, hidupnya memerlukan peralatan atau perlengkapan untuk kebutuhan sehari-hari, diantaranya adalah tempat menyimpan cairan (minuman) dan makanan yang dibuat dari gerabah (tanah liat).

Para pemuka masyarakat / pemimpin, kemudian sangat mempengaruhi kehidupan selanjutnya, dimana orang yang dihormati dan dipercaya tersebut dianggap dapat melindungi warganya, bahkan sampai meninggalpun tatap dapat mempengaruhi manusia yang masih hidup. Muncullah suatu bentuk kepercayaan  penghormatan kepada nenek-moyang, sebagai penghormatan maka dibuatlah  perlambangan-perlambangan dan pemujaan-pemujaan untuk menenangkan arwah nenek moyang mereka. Penyertaan benda kubur  seperti patung kecil (figurin), manik-manik serta tempat makanan dan minuman merupakan bentuk penghormatan leluhur sebagai bekal dalam perjalanan ke alam baka. Peruk kecil berisi perhiasan dan periuk besar berisi tulang-belulang adalah hasil tradisi kepercayaan masyarakat di zaman Pra-sejarah.

2.2 Proses pembuatan keramik

Penyiapan bahan mentah
1.Penggalian bahan mentah, bahan mentah yang digunakan untuk keramik pada umumnya adalah lempung/tanah liat. Sebagian besar lempung merupakan bentuk endapan yang terletak di permukaan bumi sehingga penggaliannya dilakukan dengan cara terbuka.
2.Penimbunan, bahan mentah hasil galian sebaiknya ditimbun dahulu. Selama  dalam penimbunan, lempung ini diberikan air, jika perlu direndam dalam air. Hal ini perlu dilakukan agar partikel-partikel yang semula di bawah dan kurang menyerap air menjadi lebih lapuk dan menyerap air. Selain itu juga untuk melarutkan garam sulfat yang merugikan. Pada saat penimbunan ini, biasanya juga dilakukan pencampuran dengan bahan lain, misalnya pasir.
3.Penggilingan, Untuk lempung yang berbentuk bongkahan yang keras, sebelum ditimbun digiling terlebih dahulu. Penggilingan dilakukan dengan menggunakan kollegrang yang dasamya berlubang-lubang untuk mendapatkan susunan besar butir yang lebih homogen. Selama digiling didalam alat ini, bahan yang sudah menjadi tepung ditambah dengan air sambil digiling, sehingga keluar dari kollegrang, bahan sudah berbentuk lempung basah. Untuk mendapatkan lempung yang lebih homogen, dilakukan penggilingan lagi di pugmill (mixer). Selesai dari pugmill, bahan diolah lagi di dalam extruder. Di dalam alat ini lempung diaduk dan ditekan, sehingga dihasilkan lempung yang benar-benar padat berbentuk kolom segi empat atau bulat.

2.3 Jenis-jenis Keramik

Pada prinsipnya keramik terbagi menjadi dua, yaitu:

1.      Keramik tradisional
Keramik tradisional yaitu keramik yang dibuat dengan menggunakan bahan alam, seperti kuarsa, kaolin, dll. Yang termasuk keramik ini adalah: barang pecah belah (dinnerware), keperluan rumah tangga (tile, bricks), dan untuk industri (refractory).
2.      Keramik halus
Fine ceramics (keramik modern atau biasa disebut keramik teknik, advanced ceramic, engineering ceramic, techical ceramic) adalah keramik yang dibuat dengan menggunakan oksida-oksida logam atau logam, seperti: oksida logam (Al2O3, ZrO2, MgO,dll). Penggunaannya: elemen pemanas, semikonduktor, komponen turbin, dan pada bidang medis. (Joelianingsih, 2004)

 Jenis Keramik Menurut Kepadatan

  1. Gerabah (Earthenware)
Dibuat dari semua jenis bahan tanah liat yang plastis dan mudah dibentuk dan dibakar pada suhu maksimum 1000°C. Keramik jenis ini struktur dan teksturnya sangat rapuh, kasar dan masih berpori. Agar supaya kedap air, gerabah kasar harus dilapisi glasir, semen atau bahan pelapis lainnya. Gerabah termasuk keramik berkualitas rendah apabila dibandingkan dengan keramik batu (stoneware) atau porselin. Bata, genteng, paso, pot, anglo, kendi, gentong dan sebagainya termasuk keramik jenis gerabah. Genteng telah banyak dibuat berglasir dengan warna yang menarik sehingga menambah kekuatannya.

Gambar 2.1 keramik gerabah

2. Keramik Batu (Stoneware)
Dibuat dari bahan lempung plastis yang dicampur dengan bahan tahan api sehingga dapat dibakar pada suhu tinggi (1200°-1300°C). Keramik jenis ini mempunyai struktur dan tekstur halus dan kokoh, kuat dan berat seperti batu. Keramik jenis termasuk kualitas golongan menengah.

Gambar 2.2 keramik batu
3. Porselin (Porcelain)

Adalah jenis keramik bakaran suhu tinggi yang dibuat dari bahan lempung murni yang tahan api, seperti kaolin, alumina dan silika. Oleh karena badan porselin jenis ini berwarna putih bahkan bisa tembus cahaya, maka sering disebut keramik putih. Pada umumnya, porselin dipijar sampai suhu 1350°C atau 1400°C, bahkan ada yang lebih tinggi lagi hingga mencapai 1500°C. Porselin yang tampaknya tipis dan rapuh sebenarnya mempunyai kekuatan karena struktur dan teksturnya rapat serta keras seperti gelas. Oleh karena keramik ini dibakar pada suhu tinggi maka dalam bodi porselin terjadi penggelasan atau vitrifikasi. Secara teknis keramik jenis ini mempunyai kualitas tinggi dan bagus, disamping mempunyai daya tarik tersendiri karena keindahan dan kelembutan khas porselin. Juga bahannya sangat peka dan cemerlang terhadap warna-warna glasir.
Gambar 2.3 keramik porselin

4. Keramik Baru (New Ceramic)
Keramik yang secara teknis, diproses untuk keperluan teknologi tinggi seperti peralatan mobil, listrik, konstruksi, komputer, cerobong pesawat, kristal optik, keramik metal, keramik multi lapis, keramik multi fungsi, komposit keramik, silikon, bioceramic, dan keramik magnit. Sifat khas dari material keramik jenis ini disesuaikan dengan keperluan yang bersifat teknis seperti tahan benturan, tahan gesek, tahan panas, tahan karat, tahan suhu kejut seperti isolator, bahan pelapis dan komponen teknis lainnya.

Sifat Keramik
Sifat keramik sangat ditentukan oleh struktur kristal, komposisi kimia dan mineral bawaannya. Oleh karena itu sifat keramik juga tergantung pada lingkungan geologi di mana bahan diperoleh. sifat yang umum dan mudah dilihat secara fisik pada kebanyakan jenis keramik adalah britle atau rapuh, hal ini dapat kita lihat pada keramik jenis tradisional seperti barang pecah belah, gelas, kendi, gerabah dan sebagainya, coba jatuhkan piring yang terbuat dari keramik bandingkan dengan piring dari logam, pasti keramik mudah pecah, walaupun sifat ini tidak berlaku pada jenis keramik tertentu, terutama jenis keramik hasil sintering, dan campuran sintering antara keramik dengan logam. sifat lainya adalah tahan suhu tinggi, sebagai contoh keramik tradisional yang terdiri dari clay, flint dan feldfar tahan sampai dengan suhu 1200 C, keramik engineering seperti keramik oksida mampu tahan sampai dengan suhu 2000 C. kekuatan tekan tinggi, sifat ini merupakan salah satu faktor yang membuat penelitian tentang keramik terus berkembang. Secara umum sifat keramik meliputi :
1.   Keras, kuat, tetapi bersifat getas atau mudah pecah.
2.   Tahan terhadap korosi.
3.   Kapasitas panas yang baik dan konduktivitas panas yang rendah.
4.   Sifat listriknya dapat menjadi isolator, semikonduktor,dan konduktor.
5.    Dapat bersifat magnetik dan non magnetik.

2.4  Perkembangan Keramik dari Masa ke Masa

Di Indonesia, keramik sudah dikenal sejak jaman Neolithikum, diperkirakan rentang waktunya mulai dari 2500 SM–1000 SM. Peninggalan zaman ini diperkirakan banyak dipengaruhi oleh para imigran dari Asia Tenggara berupa: pengetahuan tentang kelautan, pertanian dan peternakan. Alat-alat berupa gerabah dan alat pembuat pakaian kulit kayu. Kebutuhan manusia dalam kehidupan sehari-hari selalu mengalami perubahan sesuai perkembangan zaman. Awalnya manusia membuat alat bantu untuk kebutuhan hidupnya, mulai dari membuat kapak dari batu. Seperti di Sumatra ditemukan pecahan-pecahan periuk belanga di Bukit Kulit Kerang.
Meskipun pecahan tembikar tersebut kecil dan berkeping-keping namun telah terlihat adanya bukti nyata membuat wadah dari tanah liat. Teknik pembuatannya dilakukan dengan tangan, dan untuk memadatkan serta menghaluskan digunakan benda keras seperti papan. Cara menghias dilakukan dengan menekankan sebuah kayu berukir, atau menekan tali, anyaman bambu, duri ikan, dan sebagainya, pada permukaan keramik (mentah) setelah selesai pembentukan. Cara seperti ini paling banyak dilakukan oleh perajin tradisional di berbagai daerah di pelosok tanah air.
Gambar 2.4 pembuatan keramik

Di pantai selatan Jawa tepatnya diantara Yogyakarta dan Pacitan ditemukan pecahan tembikar yang berhiaskan teraan anyaman atau tenunan seperti hasil tenun yang di buat di Sumba. Di daerah Melolo (P. Sumba) ditemukan pula periuk belanga yang berisikan tulang-tulang manusia. Peninggalan-peninggalan prasejarah ini juga ditemukan didaerah Banyuwangi, Kelapa Dua-Bogor, Kalumpang serta Minanga di Sulawesi, Gilimanuk di Bali dan juga penemuan pada waktu peninggalan arkeologis di sekitar candi Borobudur dan di Trowulan-Mojokerto.
Termasuk juga peninggalan zaman Kerajaan Majapahit (abad 16 M) banyak di temukan bata-bata dan genteng dari tanah liat yang dibakar sebagai bahan bangunan, namun juga benda-benda seperti celengan. Pecahan-pecahan tembikar juga ditemukan di situs Batujaya, di Karawang Jawa Barat. Ditemukan juga fragmen yang terbuat dari terracotta. Sesuai penandaaan maka tembikar-tembikar ini ada pada abad ke 3 atau 4 masehi.
Gambar 2.5 peninggalan kerajaan majapahit

Gambar tembikar juga terdapat pada relief  hiasan bangunan, dan patung-patung. Ini memberikan indikasi bahwa tradisi pembuatan benda keramik dengan teknologi sederhana telah lama berlangsung. Artefak lainnya di gambarkan pada relief candi Borobudur yang menunjukkan motif wanita yang sedang mengambil air dari kolam dengan periuk bulat dan kendi serta memasak dengan kuali. Sedangkan relief candi Prambanan dan candi Penataran (Blitar) melukiskan jambangan bunga dengan hiasan suluran dan bunga-bungaan. Peninggalan ini juga menggambarkan akan adanya kegiatan pembuatan keramik rakyat di pedesaan dan banyak hubungannya dengan penemuan kebutuhan akan wadah

Gambar 2.6 tembikar

Keramik rakyat ini dari zaman ke zaman berkembang secara evolusioner. Demikian pula dengan bentuk, teknik pengolahan maupun pembakarannya, pembakaran dilakukan hanya dengan menggunakan daun-daun atau ranting-ranting pohon yang telah kering. Mereka lebih banyak memikirkan peralatan yang ada hubungannya dengan rumah tangga. Untuk keperluan tersebut dibuatlah benda gerabah dari tanah liat kemudian dibentuk dan setelah kering dibakar dengan pembakaran sederhana. Penemuan keramik merangsang kreativitas manusia untuk menciptakan berbagai macam benda keramik yang di buat dari bahan tersebut. Pada perkembangan selanjutnya berbagai faktor turut menentukan kemajuan keramik diberbagai daerah.
Faktor-faktor tersebut mempengaruhi kemajuan keramik, mulai dari faktor keperluan hidup, persedian bahan baku sampai kemajuan teknik pembakaran. Dari faktor-faktor tersebut, faktor kebutuhan atau keperluan hidup yang merupakan pengaruh yang dominan, sebagai contoh: negeri China.
Gambar 2.7 Peta Indonesia

Secara pasti sangatlah sulit untuk dikatakan daerah mana yang mula-mula yang merupakan pusat perkembangan keramik di Indonesia. Dari segi teknik pembuatannya benda-benda keramik yang oleh para ahli sejarah disebut “paddle and anvil technique” atau teknik tatap batu, suatu teknik pembuatan keramik tradisional yang saat ini masih dipergunakan di daerah-dareah di Indonesia. Meninjau hasil karya keramik dari beberapa daerah di Indonesia sangat menarik karena terasa ada suatu karakteristik sangat khas yang menjiwai benda-benda tersebut. Daerah tersebut antara lain Kalimantan dengan keramik Singkawang yang menghasilkan guci-guci besar. Daerah ini menghasilkan benda keramik dengan teknologi pembakaran tinggi mulai abad XIX.
Singkawang merupakan daerah migrasi orang-orang China Hokkian, yang banyak keahliannya membuat guci. Sementara masyarakat tradisional tetap melakukan aktivitas untuk membuat gerabah tradisional untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan kekuatan apa adanya.
Gambar 2.8 Jaman Belanda


Jaman Penjajahan Belanda

Teknologi pembuatan keramik dapat dikatakan mulai berkembang dengan didirikannya Laboratorium Keramik atau “Het Keramische Laboratorium” pada tahun 1922 di Bandung. Fungsi utama laboratorium ini sebagai pusat penelitian bahan bangunan seperti bata, genteng, saluran air dan sebagainya yang terbuat dari tanah liat. Selain itu mengembangkan juga teknologi glasir untuk barang gerabah halus yang disebut dengan ‘aardewerk’. Bahan glasir didatangkan dari Belanda.
Gambar 2.9 Pabrik Keramik

Selanjutnya di Plered Purwakarta didirikan sebuah pabrik keramik dengan dilengkap alat-alat produksi masinal untuk mengolah bahan tanah liat. Pabrik ini berfungsi sebagi induk yang memberikan bimbingan dalam pembuatan bahan bangunan dan gerabah halus berglasir kepada para perajin setempat. Pabrik keramik di Pleret yang dimaksudkan sebagai pusat penyuluhan di Jawa barat terpaksa gulung tikar. Sedangkan pusat induknya di Bandung hidupnya masih belum menentu keberadaannya.
Tetapi walaupun dengan pemasukan teknologi impor ini, keramik Indonesia belum mengalami kemajuan yang pesat. Pusat penyuluhan bidang keramik sasarannya pada kehidupan gerabah pedesaan saja. Masyarakat kota belum banyak mengenal keramik bakaran tinggi pada masa itu, dan lebih suka menggunakan barang impor dari negeri China atau Eropa.
Gambar 2.10 Jaman Jepang

Jaman Pendudukan Tentara Jepang

Dengan masuknya tentara Jepang , pabrik keramik di Bandung telah diubah namanya menjadi “Toki Shinkenjo”. Laboratorium ini berfungsi sebagai balai penelitian yang meneliti dan mengembangkan serta memproduksi barang-barang keramik dengan suhu bakar tinggi. Produknya antara lain: bata tahan api, botol sake, dan sebagainya. Barang-barang tersebut dibuat untuk keperluan bala tentara Jepang di Indonesia.

Jaman Pemerintah Republik Indonesia

Sejak pemerintahan dipegang pemerintah republik Indonesia, maka “Toki Shinkenjo” berubah nama menjadi Balai Penyelidikan Keramik (BPK), dalam operasionalnya dilengkapi dengan alat-alat pengujian dan alat-alat produksi yang lebih modern. Fungsi dan tugas BPK semakin berkembang, tidak hanya berporduksi barang-barang keramik, gelas, isolator listrik tetapi juga aktif melakukan kegiatan penelitian barang-barang mentah keramik hasil temuan bahan keramik di beberapa tempat.

 benda hias, barang tahan api, bata tahan api, alat-alat teknik, gips, email, dan keramik bahan bangunan.
Sekitar tahun 1969 BPK mencoba mengembangkan apa yang disebut dengan keramik ‘biru putih’ yaitu imitasi keramik China yang pembakarannya pada suhu 1300 derajat celcius. Dengan diperkenalkanya produk ala China ini maka banyak perusahaan lain di kota Bandung memproduksinya; seperti pabrik keramik di Kiara Condong, pabrik keramik Tanah Agung di kota Malang, serta pabrik keramik di Plered-Purwakarta. Produk keramik dengan corak biru putih tersebut ternyata banyak penggemarnya. Pada masa Pelita ke dua munculah harapan-harapan baru untuk penggunaan benda keramik di hotel-hotel di Jakarta dan di kota-kota lain.
Benda keramik tersebut berupa peralatan makan, hiasan dan tempat bunga. Kemudian berlanjut ke masyarakat kota yang mulai terbiasa menggunakan benda-benda keramik dan sedikit demi sedikit munculah keinginan benda tersebut sebagai kebutuhan rumah tangga. Dengan diketemukannya bahan-bahan mentah yang melimpah seperti kaolin, felspard, kwarsa dan sebagainya. maka sejak tahaun 1960-an bermunculan pabrik-pabrik keramik dibebebrapa kota. Produknya pun bermacam-macam seperti produk gerabah, stoneware dan porselin, jenis produksinya antara lain peralatan makan dan minum
Kehidupan dunia keramik mulai bangkit dan tumbuhnya perusahaan kecil dan menengah yang bergerak dibidang keramik seperti terdapat di Bandung, Plered-Purwokweto, Klampok, Bayat-Klaten, Malang, Yogyakarta dan lainnya daerah di luar Jawa. Dengan perjalanan waktu, dan dengan adanya pendidikan tinggi seni rupa seperti ITB Bandung, ASRI (ISI) Yogyakarta, ASTI (ISI) Surakarta dan universitas lainnya mulai menelurkan seniman akademisi keramik yang turut menghidupkan dunia keramik saat ini. Namun, ditengah kemajuan industri keramik dunia, industri keramik Indonesia belum mengalami kemajuan yang signifikan walaupun kemajuan dalam bidang keramik ini sudah menjadi tuntutan pasar. Hal ini disebabkan karena sarana dan prasarana, berupa alat-alat untuk mengembangkan industri keramik itu termasuk mahal. Selain
itu teknologi yang adapun sulit didapat. Sebab bahan-bahan untuk keramik maju harus bahan yang lebih murni. Tetapi usaha-usaha untuk mengembangkan industri                          keramik, berupa penelitian-penelitian tetap dilakukan, kegiatan seperti ini telah menjadi kegiatan rutin seperti Balai Besar Keramik di Bandung, juga kegiatan-kegiatan pengembangan desain untuk benda keramik di industri seperti di Sango Semarang, industri keramik di Tangerang dan di industri lainnya. Dari hasil pembinaan dan bimbingan dari pemerintah dan pihak terkait, baik produktivitas dan variasi bentuk juga pengalaman perajin semakin meningkat.
Gambar 2.11 Monumen keramik

Perkembangan dari bentuk produk keramik yang masih melekat ciri khas dari masing-masing daerah semakin menarik dan memperkaya hasil budaya bangsa. Perkembangan dunia pariwisata yang makin maju memberikan dampak yang sangat bagus bagi perkembangan keramik.
Gambar 2.12 gerbang desa pager jurang

Dengan dicanangkannya desa wisata seperti: di desa Pager Jurang-Bayat Klaten, desa Kasongan-Bantul, Klampok-Banjarnegara, Banyumulek- Lombok semakin meningkatkan produktivitas dan kualitas juga pemasaran produk keramik yang semakin berkembang hingga kini.
Pemakaian benda-benda keramik  sudah dimulai sejak 10.000 tahun yang lalu. Hasil penggalian barang kuno di Mesir, terdapat keramik yang dibuat  5000 tahun sebelum Masehi, dan penggunaan bata merah sudah sejak 3000 tahun sebelum Masehi.









BAB 3 KERAMIK BAHAN BANGUNAN
3.1 Produk keramik bahan bangunan

keramik di Eropa dimulai pada masa kejayaan Romawi Yunanai, dan mulai berkembang pesat pada abad 18. Keramik yang terkenal berasal dari Tiongkok sejak 2600 tahun sebelum Masehi. Keramik dari daerah ini terkenal di seluruh dunia karena terbuat dari sejenis tanah putih yang dapat dibakar porselen. Tanah ini disebut dengan tanah Kaolin. 

Dengan berkembangnya teknologi, pada abad terakhir ini, pemakaian bahan keramik tidak hanya terbatas pada bahan bangunan dan  alat rumah tangga, tetapi  sudah meningkat pada keramik untuk bidang teknik, antara lain keramik untuk teknik listrik dan teknik suhu tinggi seperti isolator listrik, busi kendaraan, transistor dan kapasitor, bata tahan api, ceramic metal, fibre optic, silicon, dll. 

Untuk di Indonesia,  perkembangan industri keramik berjalan lambat. Bata merah sudah digunakan sejak jaman Majapahit dan Sriwijaya. Sampai awal abad 20, industri keramik yang dominan di Indonesia adalah industri bata dan genteng, ubin merah, alat-alat sanitair dan pipa tanah. Sedangkan pada bidang keramik halus adalah grabah alat rumah tangga, pot atau vas bunga, isolator listrik tegangan rendah dan bata tahan api bata samot. Untuk keramik teknik, Indonesia masih mengimpor dari Negara lain, terutama dari Amerika misalnya untuk isolator listrik tegangan menengah dan tinggi, keramik listrik lainnya serta bata tahan api. Kesulitan yang dihadapi bagi perkembangan keramik halus dan keramik teknik di Indonesia adalah belum adanya industri pengolahan bahan baku dari alam yang dijadikan bahan mentah siap pakai.

Ditinjau dari kata keramik yang berasal dari kata bahasa Yunani keramos yang berarti  bahan yang dibakar, maka yang disebut produk keramik  adalah mencakup macam-macam produk yang dibuat melalui proses pembakaran. 

BAHAN BAKU KERAMIK

Bahan baku keramik berupa oksida-oksida mineral yang terdapat di alam berupa batuan maupun pelapukan dari batuan. Jenis oksida tersebut adalah : SiO2, Al2O3, Fe2O3, CaO, MgO, K2O dan Na2O. Oksida-oksida ini banyak terdapat pada tanah liat (lempung), yang terdapat dalam bentuk batuan adalah feldspar, kwarsa dan batu kapur.
Bahan baku keramik yang banyak digunakan adalah :

(1) Tanah Liat/lempung

Tanah liat merupakan jenis tanah hasil penguraian batuan alam terutama batuan feldspar yang mengandung alumina silikat hidrat. Jenis tanah ini bersifat plastis bila basah dan akan mengeras/membatu bila dipanasi pada suhu tinggi. Lempung terdiri dari butiran-butiran halus yang mengandung bermacam-macam mineral sehingga pada umumnya lempung tidak mempunyai susunan kimia tertentu.
Jenis-jenis tanah liat menurut susunan mineralnya :

a. Lempung Kaolinit
Susunan kimianya adalah Al2O3.2SiO2.2H2O disebut juga mineral kaolin. Lempung ini berwarna putih bila kadar besinya rendah.
b. Lempung Monmorilonit.
Berwarna  kelabu sampai hijau, bila basah bersifat sangat plastis dan mudah mengembang, bila kering keras dan mudah hancur. Karena sifatnya yang mudah mengembang, serta sifat susut kering yang tinggi maka lempung jenis ini, dalam bidang keramik jarang dipakai.
c. Lempung Illit
Lempung ini mengandung illit yaitu sejenis kristal hidromika yang mempunyai sifat susut muainya rendah.  
d. Lempung klorit
Bentuk kristalnya monokolin, warna khas hijau dan berkilap kaca hingga pudar seperti tanah. Bersifat susut bakar rendah  sehingga baik untuk bahan keramik.

Jenis Lempung menurut cara terbentuknya adalah :
a. Lempung Primer
Lempung primer disebut lempung residu, merupakan lempung yang terdapat di sekitar batuan induknya yang lapuk. Lempung ini tidak tercampur dengan bahan lain. Sebagai contoh misalnya, lapuknya flespar akan membentuk kaolin yang bercampur silika. Lempung kaolin ini bersifat baik sebagai keramik putih.
b.  Lempung endapan ataupun lempung sekunder.
Lempung ini berasal dari  lempung lapukan batuan induk, kemudian terbawa arus air, angina atau es sehingga jauh dari batuan asalnya kemudian mengendap di suatu tempat. Jenis lempung ini antara lain : lempung alluvial (lempung yg mengendap sepanjang aliran sungai, rawa atau cekungan di darat), Lempung estuarin ( lempung yang mengendap di muara sungai), Lempung lakustrin (lempung danau atau rawa), Lempung marine ( lempung yang mengendap di laut ), Lempung  glacial  (lempung yang terbawa angin atau aliran es ).

(2) Felspar

Felspar merupakan  jenis batuan  yang tidak terlalu keras, tersusun dari mineral alumina silikat. Ada dua  jenis yaitu flespar kalium (mengandung K2O) disebut orthoclase feldspar dan felspar natrium (mengandung Na2O) disebut plagioclase felspar.  Felspar  di industri keramik dipakai sebagai sebagai  bahan pelebur (merendahkan suhu leleh), glasir, gelas atau kaca. 
(3) Kwarsa

Berbentuk batuan keras atau pasir. Pemakaian dalam industri keramik yaitu :
-  Campuran dalam pembuatan keramik putih dan keramik halus.
-  Campuran pembuatan glasir dan email. 
-  Bahan dasar pembuatan gelas atau kaca.
-  Bahan dasar pembuatan batu tahan api jenis silika.
Batu pasir kwarsa yang berkadar kwarsa tinggi dapat dipakai sebagai bata silika alam untuk bata tahan api.

(4) Batu Kapur
Dalam industri keramik digunakan sebagai bahan campuran. 
Sifat-sifat bahan mentah
Sifat bahan mentah keramik yang diperlukan adalah sifat fisik dan sifat kimianya, tetapi yang lebih dominan adalah sifat fisiknya. Sifat fisik yang menonjol untuk industri keramik adalah :  Susunan butiran.  Susunan butiran bahan, akan mempengaruhi sifat fisik lainnya, misalnya keplstisan, susut kering, susut bakar, titik lebur, kekuatan masa keramik dan daya serap air. Suatu jenis lempung yang sama bila susunan butirnya berbeda maka pemakaian untuk pembuatan produk keramik juga berbeda.
Sifat kimia dari bahan mentah juga harus diketahui karena erat hubungannya dengan susunan mineral yang dikandung serta produk yang dituju. Susunan kimia bahan berhubungan dengan sifat susut, titik lebur, kelakuan selama pembakaran serta sifat ketahanan kimia dari produk akhir.

PROSES PEMBUATAN KERAMIK BANGUNAN  
1. Penyiapan bahan mentah, meliputi : penggalian bahan mentah, penimbunan dan penggilingan. 
  • Penggalian bahan mentah, bahan mentah yang digunakan untuk keramikpada umumnya adalah lempung/tanah liat. Sebagian besar lempung merupakan bentuk endapan yang terletak di permukaan bumi sehingga penggaliannya dilakukan dengan cara terbuka. 
  • Penimbunan, bahan mentah hasil galian sebaiknya ditimbun dahulu. Selama dalam penimbunan, lempung ini diberikan air, jika perlu direndam dalam air. Hal ini perlu dilakukan agar partikel-partikel yang semula di bawah dan kurang menyerap air menjadi lebih lapuk dan menyerap air. Selain itu juga untuk melarutkan garam sulfat yang merugikan. Pada saat penimbunan ini, biasanya juga dilakukan pencampuran dengan bahan lain, misalnya pasir. 
  • Penggilingan, Untuk lempung yang berbentuk bongkahan yang keras, sebelum ditimbun digiling terlebih dahulu. Penggilingan dilakukan dengan menggunakan  kollegrang  yang dasarnya berlubang-lubang untuk mendapatkan susunan besar butir yang lebih homogen. Selama digiling didalam alat ini, bahan yang sudah menjadi tepung ditambah dengan air sambil digiling, sehingga keluar dari kollegrang, bahan sudah berbentuk lempung basah. Untuk mendapatkan lempung yang lebih homogen, dilakukan penggilingan lagi di  pugmill  (mixer). Selesai dari pugmill, bahan diolah lagi di dalam extruder. Di dalam alat ini lempung diaduk dan ditekan, sehingga dihasilkan lempung yang benar-benar padat berbentuk kolom segi empat atau bulat. 
2. Pembentukan Produk Keramik

Proses pembentukan produk keramik sangat menentukan sifat fisik suatu produk keramik. Cara pembentukan keramik tergantung pada : tujuan pemakaian, sifat bentuknya dan bahan dasarnya. Ada empat cara pembentukan produk keramik, yaitu :

a. Cara pembentukan dengan proses lempung lembek  (soft mud process). Cara ini biasanya digunakan untuk membentuk produk keramik yang pembentukannya dikehendaki dengan lembek sehingga dapat dilakukan pembentukan dengan tangan. Cara ini biasanya dipakai untuk benda-benda khusus yang tidak dapat dikerjakan dengan alat lain, misalnya untuk produk keramik halus yang cara pembentukannya dengan proses putar.  Di dalam proses ini, lempung bersifat lembek dengan kandungan air 25 – 40 %, dengan syarat lempung masih cukup lkuat menahan beratnya sendiri sehingga tidak terjadi perubahan bentuk.

b. Cara pembuatan dengan proses lempung kaku (Stiff mud). Masa yang dipakai berupa lempung kau yang cukup berat bila dicetak/dibentuk dengan tangan.Kadar air lempung kaku dalam cara ini kurang lebih 15 – 30 %. Biasanya cara ini memerlukan alat pembentuk extruder sehingga dari alat ini dikeluarkan suatu kolom tanah yang kaku. Kemudian kolom tanah ini dibentuk/dipotong, lalu dibentuk kembali menjadi produk tertentu. Cara ini biasanya dipakai dalam pembuatan produk keramik berat dan keramik banhan bangunan, misalnya genteng keramik, bata merah, bata berlubang, pipa tanah dan bentuk produk keramik kasar lainnya. 

c. Cara Pembentukan dengan masa slip. Cara ini dipakai bila lempung yang akan dicetak disiapkan dalam bentuk bubur yang halus sekali dan berbentuk lumpur cair. Biasanya lempung terdiri dari susunan butiran yang halus sekali. Kandungan air dalam lempung ini 12  –  50 %. Cara ini biasanya dilakukan dengan membuat cetakan dari gips yang telah dibakar dan dengan cara mencetak tersebut dapat dibuat produk yang sama. Selain itu,juga memungkinkan untuk membentuk benda-benda yang sulit dibentuk dengan cara tangan atau mesin. Cara pembuatan ini biasanya digunakan untuk membuat produk sanitair (closet, wastafel, dll).

d. Cara Pembentukan dengan proses kering. Dalam cara ini dipakai lempung/masa campuran yang berkadar air rendah 4 – 12 %, sehingga masa tadi lembab. Cara membentuknya biasanya dengan alat kempa (press) yang bertekanan tinggi untuk mendapatkan produk yang mempunyai kepadatan tinggi pula. Cara ini umumnya dipakai untuk membuat produk keramik yang mempunyai kepadatan tinggi tetapi hasil bakarannya tidak sampai meleleh, misalnya dalam pembuatan produk ubin keramik, bata klinker dan bata tahan api.

3. Pengeringan
Pada saat keramik selesai dibentuk, biasanya mengandung air antara 7-30 % tergantung cara pembentukkannya. Keramik ini masih dalam kondisi mentah dan basah sehingga untuk mengurangi kadar airnya perlu dikeringkan lebih dulu.  Tujuan pengeringan adalah untuk mnguapkan air yang masih terkandung di dalam produk mentah tadi, sehingga pada saat dibakar tidak banyak terjadi kerusakan, tidak berubah sifat maupun bentuknya. Pada saat pengeringan, akan terjadi penyusutan  karena air di dalam bahan mentah akan menguap sehingga butir-butir masa lempung akan mendekat satu sama lain. Penyusutan akan terhenti apabila air yang menguap telah mencapai ± ½ - 1/3 kali. Apabila penyusutan telah selesai, maka  produk kering sudah tidak mengalami perubahan bentuk lagi .

Pengeringan produk mentah dilakukan dengan 2 cara, yaitu :
a. Pengeringan alami, yaitu suatu cara pengeringan yang memanfaatkan matahari dan suhu di sekitar benda tersebut.  Kecepatan pengeringan alami tergantung oleh : suhu udara di sekitarnya, kelembaban udara, kecepatan gerakan udara.

b. Pengeringan buatan, yaitu cara pengeringan dengan menggunakan tungku pemanas sehingga radiasi panas dari tungku dimanfaatkan untuk mengeringkan keramik mentahtadi.


4. Pembakaran  
Pembakaran  produk keramik bertujuan untuk mendapatkan produk yang bersifat tidak berubah bentuknya, keras, cukup kuat menahan beban, tahan air, padat dan tahan terhadap pengaruh cuaca lainnya. Proses yang terjadi pada keramik selama pembakaran terdiri dari beberapa tahap, yaitu :

a. Tahap penguapan air mekanis sisa pengeringan. Jumlah air yang terkandung di dalam bahan mentah keramik setelah pengeringan ± 3 – 10 %. Pada tahap awal pembakaran, perlu dilakukan pengeringan air bebas ini. Pada tahap ini, pembakaran dilakukan  secara perlahan-lahan dengan suhu relatif rendah ( 40  -  150ÂşC ) untuk menghindari penguapan secara mendadak yang menyebabkan benda retak. Kenaikan suhu pembakaran biasanya diatur antara 5 atau 10ÂşC/jam.

b. Tahap Penguapan air mineral. Pada umumnya air yang terkandung di dalam masa lempung tidak lepas pada suhu di bawah 200ÂşC dan umumnya lepas pada suhu di atas 500ÂşC  -  700ÂşC. Pada tahap ini, benda keramik menjadi lebih berpori dan kurang kuat. 

c. Tahap Pembakaran Cepat. Pada tahap ini dimaksudkan agar terjadi sedikit peleburan pada dinding partikel lempung sehingga partikel satu dengan yg lainnya melekat. Untuk beberapa produk keramik yang memerlukan penyerapan air rendah, maka dilakukan peleburan lebih lanjut sehingga pori-pori yang ditinggalkan air bebas maupun air mineral menjadi tertutup.

Jenis jenis tungku pembakaran  :

1. Tungku berkala (periodik). Tungku yang digunakan untuk pembakaran secara berkala, dimana sejumlah bahan keramik dibakar sekaligus sampai masak kemudian tungku didinginkan lagi dan hasil bakarannya dibongkar. Demikian dilakukan berulang secara berkala. Cara ini terlalu boros karena panas yang hilang banyak sekali, terutama panas untuk memanasi badan tungku dan sewaktu tungku dingin kembali.

Jenis-jenis tungku berkala :
a. Tungku  ladang, tungku yang biasa digunakan untuk membakar bata merah, bersifat tidak  permanen. Lamanya pembakaran dari mulai memanasi tungku sampai tungku dingin kembali adalah 5 – 7 hari. Hasil bakaran pada umunya menghasilkan rendamen rendah (60%). 
b. Tungku berkala permanen. Tungku ini berbentuk ruangan permanen (berbentuk segi empat dan lingkaran). Pada sisi bawah tungku diberi lubang-lubang pembakaran. Hasil bakaran pada umumnya merata dan menghasilkan rendamen antara 70 – 85 %.
2. Tungku Kontinu
Tungku yang bekerja secara  terus menerus (tak berhenti) kecuali produksi berhenti. Proses pembakaran berlangsung berhari-hari, berbulan-bulan, dan hasilnya diambil setiap hari atau dalam jangka waktu tertentu.
Jenis tungku ini ada 2, yaitu :
a. Tungku kamar, dikenal dengan tungku Hofman. Berbentuk lorong yang bersekat-sekat menjadi beberapa ruangan. Dengan tungku ini hasil produksi cukup besar, dimana 1 kamar menghasilkan ± 3500 bata dan lebih hemat bahan bakar. Umumnya dipakai untu produksi keramik bangunan skala besar
(bata & genteng). 

b. Tungku terowongan. Berbentuk terowongan yang beratap. Pemabakaran dari samping, masa yang dibakar berjalan melalui lorong ini dengan kereta/lori. Jenis tungku ini termasuk modern untuk saat ini dg bahan bakar cair atau gas. Umumnya dipakai untuk produksi keramik halus, produk-produk keramik missal yang mutu dan harganya tinggi seperti produk sanitair. 

MACAM-MACAM BAHAN BANGUNAN KERAMIK BERAT

1. BATA MERAH BIASA
  • Kuat tekan rata-rata bata merah produk industri kecil : 50 kg/cm2, untuk produk industri menengah atau besar rata-rata mencapai 150  –  200 kg/cm2. 
  • Penyerapan air bata merah produk industri kecil mencapai 40 % dengan derajat penyerapan 70g/dm2/menit. Sedangkan untuk produk industri menengah yang menggunakan mesin, penyerapan airnya 20  –  24 % dengan derajat penyerapan 10 – 20 g/dm2/menit.
  • Untuk pekerjaan yang baik, penyerapan air bata merah 10  –  20 g/dm2/menit. 
  • Di dalam bata merah tidak boleh mengandung garam sulfat, karena apabila garam ini mongering akan berubah menjadi kristal yang merusak jaringan tanah di dalam bata. 
  • Untuk dinding pemikul, kuat tekan bata minimum 50 kg/cm2. 
  • Didalam SII 021, ukuran bata ada 3 macam, yaitu : 
M 6   = 55 x 110 x 230 mm → Untuk tembok ½ bata tanpa memikul beban.
M 5a = 65 x 90 x 190 mm → Untuk tembok ½ bata tanpa memikul beban.  
M 5b = 65 x 140 x 190 mm→ Untuk tembok ½ bata tanpa memikul beban.

Penyimpangan ukuran untuk panjang, mak 4 mm sedangkan untuk lebar dan tebal mak 2 mm. Ukuran bata sangat penting pada saat pemasangan bata untuk konstruksi.  Penyimpangan ukuran yang terlampau besar mengakibatkan ketebalan siar adukan bata tidak sama tebal. Tebal siar maksimum untuk pasangan bata adalah 3 mm. Apabila tebal siar lebih dari 3 mm maka kekuatan tembok turun 15 %. Untuk konstruksi dinding bata yang baik, tebal siar maksimum 20 % dari tinggi tembok dan mak 10 % dari panjang tembok.

2. BATA BERLUBANG

  • Menurut SII 0604-81 bata berlubang adalah bata yang pada permukaannya terdapat lubang-lubang, dan jumlah luas lubang itu 15  –  35 % luas penampang batanya. 
  • Bata jenis ini dibuat dengan Extruder, dan diproduksi oleh industri menengah/besar. 
  • Syarat mutu bata ini lebih tinggi dibandingkan bata biasa. Bata  jenis ini terdapat 5 kelas menurut kuat tekannya, yaitu 250, 200, 150, 100 dan 50 kg/cm2. Syarat lain yang penting adalah penyerapan airnya tidak boleh lebih dari 20 %, untuk mutu rendah mak 22 %.
  • Bata jenis ini biasa dipakai untuk konstruksi tembok pemikul,  kecuali untuk yang mutu rendah untuk partisi. 
  • Manfaat utama penggunaan bata berlubang adalah :
1. Bagi industri, pembuatannya lebih menguntungkan karena bahan yang dipakai lebih sedikit dibandingkan bata pejal serta pengeringannya lebih cepat.
2. Bagi pemakainya,  dinding dengan bata ini lebih baik daya sekatnya terhadap suhu panas/dingin, serta lebih meredam suara dibandingkan dengan bata pejal.
  • Permukaan sisi bata ini cukup rata dan seragam sehingga dinding tidak perlu diplester.

3. BATA MERAH PELAPIS  

  • Cara pembuatannya sama dengan bata berlubang. 
  • Ukuran panjang dan lebar biasanya sama dengan bata biasa dengan ketebalan 10 mm. 
  • Persyaratan yang harus dipenuhi adalah : penyimpangan ukuran panjang dan lebarnya mak 2 %, penyerapan air mak 15 % dan tidak boleh mengandung garam sulfat. 
  • Penggunaannya untuk melapis dinding agar permukaannya terlihat seperti bata sesungguhnya dengan siar sambungan yang rapi. 
4. BATA BERONGGA
Yang dimaksud bata berongga adalah bila lubang-lubang pada salah satu penampang sisi bata, berjumlah 35  –  75 % luas penampangnya. Biasa disebut bata karawang. Cara pembuatan dan syarat mutunya sama dengan bata berlubang, kecuali syarat kuat tekannya. Persyaratan kuat tekan untuk bata berongga ada 2 macam yaitu syarat kuat tekan sejajar lubang dan kuat tekan tegak lurus lubang. Syarat kuat tekan sejajar lubang biasanya 30 – 50 % lebih tinggi daripada kuat tekan tegak lurus lubang. Penentuan kuat tekan dari dua arah ini perlu diketahui, karena di dalam penggunaannya bata berrongga menahan beban dari 2 arah tersebut. 

Bata ini biasanya digunakan untuk elemen pembentuk balok/tiang yang menahan beban lentur seperti balok beton. Juga dipakai sebagai elemen pengisi untuk pembuatan dinding dan lantai.

5. BATA KLINKER

Disebut juga bata pelapis jalan (paving blok) adalah jenis bata keramik bakaran keras (vitreous brick), dimana bata ini dibakar pada suhu hampir mencapai titik lelehnya.  Bahan bakunya adalah tanah liat tahan api dicampur dengan atau tanpa serpih (lempung keras) yang bermutu baik. Pembuatannya dibentuk dengan proses lempung kaku ( stiff mud) dengan pres tekanan tinggi sehingga mencapai kepadatan yang optimal. Suhu pembakaran yang digunakan biasanya 1200 ÂşC. 

Bata klinker terutama dipakai untuk melapis permukaan jalan raya. Bata jenis ini belum dibuat di Indonesia. Syarat mutu :
-  tahan air, tahan cuaca, tahan gesekan, dan mempunyai kuat tekan tinggi.
-   Ketahan aus dengan Ratler Test (Los Angeles test), untuk ukuran 8 ½ x 4 x 2 ½ in mak 26 %, ukuran 8 ½ x 4 x 3 in mak 24 %, ukuran 8 ½ x 3 ½  x 4 in mak 22 %.
-  Penyerapan air mak 2 %
-  Kepadatan (berat volume) minimum 2,30.
-  Kekerasan dibanding skala Moh’s min 6.
-  Kuat tekan rata-rata min 280 kg/cm2. Biasanya bias mencapai 500 kg/cm2.
-  Kuat lentur 105 – 175 kg/cm2. biasanya bisa mencapai 200 kg/cm2.

6. UBIN TAHAN ASAM 
  
Cara pembuatan dan bahan-bahannya sama dengan bata klinker. Biasanya digunakan sebagai pelapis lantai yang harus tahan terhadap asam keras (HCl, asam sulfat, dll)

7. BATA BERGLASIR  
Termasuk jenis bata lapis/bata berlubang. Terbuat dari lempung serpih dengan proses extruder. Permukaannya dilapisi glasir untuk memperendah penyerapan airnya. Pengglasiran dilakukan pada saat bata mentah, glasir akan menggelas pada saat bata

8. GENTENG KERAMIK  

Bahan dan proses pembuatannya sama dengan bata merah yang menggunanakan extruder. Bentuk-bentuk genteng keramik di Indonesia yaitu : genteng datar bentuk echt (genteng kodok), genteng S lengkung cekung/vlam, genteng palentong (S datar), genteng ukuran besar model marsiles, romano, dll. Ukuran genteng menurut SII-022-61 : Ukuran kecil, jumlah genteng 25 buah/m2, ukuran sedang jumlah genteng 20 buah/m2, ukuran besar jumlah genteng 15 buah/m2

Untuk di Indonesia, genteng keramik merupakan penutup atap yang paling murah dan paling baik.Sifat-sifat genteng keramik  : tahan lama, penyekat panas yang baik dan tahan api. Kemiringan atap untuk genteng keramik 35° - 60°.

3.2 Karakter yang tepat untuk keramik ruang tamu

Panduan Pilih Keramik Untuk Tiap Ruangan

Gambar 3.1 panduan keramik untuk tiap rungan
RumahCom – Salah satu kebutuhan yang tak mungkin dilupakan saat membangun atau merenovasi rumah adalah penggunaan keramik.
Keramik tak hanya digunakan untuk melapisi lantai. Keramik juga digunakan untuk dinding, terutama pada kamar mandi atau dapur. Motif keramik kini pun makin beragam, sehingga penggunaannya lebih luas.
Meski demikian, Anda tetap harus memperhatikan sejumlah prinsip sebelum mengaplikasikan keramik pada rumah Anda. Agar pengunaannya tepat, perhatikan tips berikut.
Lantai bagian luar
Pilih keramik yang tahan terhadap perubahan cuaca dan musim. Selain itu keramik untuk teras biasanya memiliki permukaan yang bermotif dan tidak mengilap.
Keramik untuk teras juga memiliki permukaan yang agak kasar sehingga tidak licin saat terpapar air hujan.
Kamar mandi
Keramik kamar mandi cenderung berukuran lebih kecil dibandingkan keramik untuk ruang keluarga dan kamar tidur. Pilih keramik berwarna cerah untuk memberikan kesan luas, dan pilihlah yang bertekstur agak kasar sehingga tidak licin saat basah sekaligus mudah dibersihkan.
Keramik dinding kamar mandi juga menggunakan keramik yang tahan bahan kimia dan mudah dibersihkan.
Dapur
Keramik untuk dapur sebaiknya dipilih yang bertesktur dan tidak terlalu mengilap. Pasalnya lantai dapur selalu berisiko terciprat minyak, tepung, dan bahan makanan lainnya yang berlemak.
Jika menggunakan keramik yang mengilap, warnanya akan menjadi cepat kusam saat terpapar bahan makanan dan minyak.
Anak tangga
Lantai tangga wajib menggunakan keramik bertekstur yang tidak licin dan memiliki efek antiselip untuk mencegah ada yang terpeleset saat menaiki tangga.
Tak heran jika banyak yang lebih memilih menggunakan lantai parket atau lantai yang tertutup karpet sebagai lantai anak tangga.
Lantai di dekat pintu dan ruang tamu
Area pintu masuk paling sering terpapar kotoran dari luar, sehingga Anda membutuhkan keramik yang tebal dan kokoh. Anda bisa menggunakan keramik yang tidak bertekstur dan mengilap untuk memberikan kesan bersih pada area ruang tamu.
Kamar tidur
Keramik memang jauh lebih murah dibandingkan menggunakan lantai kayu atau marmer. Namun, untuk kamar tidur sebaiknya pilihlah keramik yang berwarna cerah dan hindari menggunakan keramik yang terlalu bercorak—seperti jenis teraso.
Keramik ini membuat Anda tak bisa melihat kotoran di atas lantai sehingga selalu mengira lantai dalam kondisi bersih.





BAB 4 Penggunaan Keramik pada Bangunan
4.1 Tahap Pemasang Keramik pada Dinding
TAHAP MEMASANG KERAMIK DINDING PALING TEPAT
keramik dinding
keramik dindingDinding merupakan salah satu struktur yang membentuk berbagai jenis-jenis rumah tinggal. Selain dari segi struktural, dinding juga berfungsi sebagai penyekat ruangan. Terkadang, dinding rumah hanya dilapisi dengan warna cat rumah yang indah dan sejuk. Namun tidak jarang juga bila dinding dilapisi dengan material penutup dinding. Salah satunya adalah keramik. Keramik memang umumnya digunakan sebagai salah satu jenis-jenis lantai rumah. Meskipun terdapat kelebihan dan kekurangan lantai keramik, namun material ini dapat digunakan sebagai material dinding juga.
Cara memasang keramik dinding sebernarnya tidak jauh berbeda dengan cara pemasangan lantai keramik. Namun tetap saja, ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan. Pertama-tama Anda perlu mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Secara umum, alat-alat tersebut adalah centong semen, lot, benang, pukul keramik berbahan karet, pensil, meteran dan sebagainya. Tidak lupa Anda perlu menyiapkan material keramik itu sendiri. Belilah menyesuaikan dengan kebutuhan pemasangan. Jangan sampai kelebihan atau kekurangan supaya proses pekerjaan menjadi lebih maksimal. Keramik yang telah dibeli juga harus dipastikan kembali keadaannya. Apakah bagus semua atau tidak.
Agar keramik memiliki daya tahan yang baik, tidak hanya direndam, namun adonan atau campuran dasar keramik dapat mempengaruhi daya rekatnya. Untuk itu, ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan pada saat membuat adonan keramik. Diantaranya adalah sebagai beriku:
Perbandingan ideal antara pasir, beton serta semen adalah 1:1:5. Hal ini juga dapat mempengaruhi ketebalan pasangan keramik.
Pada saat proses pencampuran adonan pasir dengan semen, gunakan air secukupnya hingga terbentuk pasta.
Adonan perlu dibentuk sedemikian rupa agar menjadi sempurna.
Setelah proses pembuatan adonan selesai, sekarang waktunya beralih ke proses pelaksanaan. Berikut ini adalah langkah-langkah dari cara memasang keramik dinding yang baik dan benar, yakni:

Menyiapkan area kerja
Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan menyiapkan lahan kerja. Sebelumnya, persiapkan terlebih dahulu benang, meteran ukur, paku serta beton. setelah alat dan bahan tersebut sudah dipersiapkan, selanjutnya ukurlah dinding rumah Anda yang ingin dipasangkan dengan keramik.

Mengukur dinding
Pengukuran dinding harus dilakukan dengan teliti supaya tidak terjadi kesalahan yang tidak diinginkan. Dinding yang telah diukur kemudian sisi panjangnya dibagi menjadi dua agar memiliki lebar yang sama. Pasangan keramik akan dimulai pada posisi tengah, yakni di titik simetris. Caranya adalah dengan menancapkan paku sebagai tanda dibagian tersebut. 
Selanjutnya, Anda dapat mengukur tinggi dinding hingga batas yang paling atas. Hal ini sangat membantu dalam menentukan pasangan keramik yang berada diatas dinding.
Persiapan pemasangan
Apabila proses pengukuran dan pemberian batas telah selesai dilakukan, Anda dapat melanjutkan dengan proses pemasangan keramik. Proses pemasangan ini akan dilakukan dari bagian bawah terlebih dahulu. Mengapa demikian? Karena cara ini dianggap paling mudah dibandingkan memulai dari bagian atas. Tidak hanya itu, pemasangan benang bagian atas serta bawah ini juga berfungsi sebagai jalur pemasangan keramik, yang tentunya harus terukur menyesuaikan dengan ketinggian satu keeping keramik.
Merendam keramik
Proses pemasangan tentunya akan membutuhkan adonan semen sebagai perekat keramik pada dinding rumah. Pembuatan adonan dinding keramik yang baik dan benar sebelumnya telah diuraikan pada bagian sebelumnya.
Sambil menunggu proses pembuatan adonan, keramik terlebih dahulu di rendam dalam air bersih selama kurang lebih 2-3 jam. Hal ini ditujukan agar adonan yang menempel pada permukaan keramik tidak akan dengan cepat mengering. Ini juga merupakan salah satu tips jitu supaya daya rekat adonan menjadi lebih baik.


Proses pemasangan
Adonan yang telah selesai dapat langsung digunakan untuk proses pemasangan. Caranya adalah dengan menggambil beberapa keeping keramik dari dalam rendaman. Sebelum dipasang, keramik tersebut ditiriskan terlebih dahulu. Ingatlah bahwa keramik yang sudah direndam tersebut tidak boleh terkena sinar matahari agar tidak cepat mengering.
Menempel keramik
Keramik yang sudah ditiriskan tersebut kemudian dilapisi dengan adonan semen pada bagian bawahnya. Ketebalan semen menyesuaikan dengan jarak benang dengan dinding. Idealnya, ketebalan yang digunakan adalah sekitar 1-1,5 cm. Apabila ketebalannya melebihi ukuran tersebut, justru dapat mempersulit proses pemasangan.
Finishing
Keramik yang sudah dilapisi kemudian ditempelkan pada dinding. Jangan lupa untuk meratakannya dengan benang, kemudian ditekan menggunakan karet. Ketok permukaan keramik secara perlahan, hingga keramik rata dengan bagian benang atas dan bawah.
Lakukan proses ini secara terus menerus hingga semua keramik selesai dipasangkan. Apabila telah selesai, permukaan keramik dibersihkan menggunakan alat kebersihan rumah berupa spons atau kain katun. Setelah 2 hingga 3 hari, Anda baru dapat memasukkan nat dengan grout pada keramik. Setelah dipasang, jangan lupa membersihkan nat dengan cara membersihkan nat keramik.
4.2 Tahapan Pemasang Keramik pada lantai
Tahapan Memasang Keramik pada Lantai
Gambar 4.1 cara memasang keramik
Bahan keramik banyak digunakan untuk lantai (flooring). Dengan banyak pilihan warna, motif, serta ukuran akan memperindah tampilan ruangan. Untuk memasangya dibutuhkan keahlian dan ketelitian agar mendapatkan hasil yang bagus. Namun Anda pun bisa belajar memasang keramik sendiri. Dalam pemasangannya ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan, agar pemasangan keramik tepat dan benar.
  • Tentukan jenis keramik yang dibutuhkan, misalnya untuk lantai eksterior atau interior. Pemilihan ini disesuaikan dengan kondisi tempat pemasangannya.
  • Tentukan luas permukaan yang akan dilapisi keramik, serta bahan pemasangannya. Keramik yang dibutuhkan dilebihkan sekitar 15% dari luas ruangan terkukur untuk jenis pemasangan paralel, dan 25% untuk diagonal.
  • Tentukan warna, ukuran, dan motif keramik.
  • Tentukan metode atau cara pemasangan yang akan dilakukan, apakah open join dengan lebar nat >3mm, atau closed join dengan nat kecil < 3mm.
  • Tentukan pola pemasangan yang diinginkan, apalah paralel atau diagonal. Pemasangan secara diagonal akan membutuhkan lebih banyak keramik karena banyaknya keramik yang dipotong pada tepi ruangan.
Persiapan Memasang Keramik
Pastikan lantai yang akan dipasang keramik sudah kuat dan rata. Hal ini untuk memastikan keramik yang terpasang tidak akan retak dan pecah. Pastikan pula dasar lantai tidak terdapat retakan dan serpihan, jika ada harus dihaluskan dan dibersihkan terlebih dahulu.
Siapkan bahan-bahan dan peralatan berikut ini:
  • Meteran
  • Penggaris siku
  • Sarung tangan
  • Kacamata pengaman
  • Palu karet
  • Pemotong ubin atau tang ubin
  • Benang ukur dan paku
  • Pisau plamur
  • Cetok
  • Tile spacer
  • Waterpass alumunium (bubble level)
  • Spons
  • Spidol atau kapur
  • Mortar sebagai perekat keramik
  • Tile grout sebagi pengisi nat
Cara Pemasangan Keramik Pada Dinding
1.     Temukan titik pusat dari area lantai. Titik pusat dapat ditentukan dengan mengukur persilangan sudut ruangan yang satu ke sudut lainnya. Kemudian tandai pertengahan garis yang terukur. Menemukan titik pusat merupakan prioritas utama, karena hal ini akan menentukan di mana harus memasang keramik yang pertama dan berikutnya.
2.     Mulailah pemasangan keramik yang pertama dari titik pusat ke salah satu dinding
3.     Aplikasikan mortar perekat keramik dengan cetok (bergerigi lebih baik) secara merata pada dasar lantai. Rentangan aplikasi perekat sebaiknya jangan terlalu luas cukup 3-4 ubin keramik. Dikhawatirkan perekat akan cepat mengering, sehingga rekatannya pada keramik tidak bagus.
4.     Letakkan keramik di atasnya, dan tekan ke bawah dengan pelan, serta ketok dengan palu karet hingga posisi ubin stabil. Pada saat mengetok keramik, pastikan Anda mengecek suara yang timbul. Jika suara berdengung berarti ada perekat yang tidak merekat pada keramik. Segera angkat keramik tersebut dan lakukan perbaikan pengadukan perekat hingga merata dan tempelkan pada posisi semula.
5.     Gunakan tile spacer (pemisah ubin) dan lanjutkan pemasangan ubin berikutnya.
6.     Pakailah waterpass alumunium untuk mengepaskan ketinggian keramik sampai merata. Jika terlihat ada permukaan yang tidak rata, maka bisa menambah atau mengurangi mortar perekat keramik sampai rata.
7.     Pada saat pemasangan pada ujung baris, lakukan pengukuran pada keramik yang akan dipotong dengan cara menempatkannya di atas keramik terakhir, serta dengan memberi ruang untuk nat. Tandai dengan spidol pada keramik yang akan dipotong.
8.     Ulangi langkah nomer 2 hingga 7 untuk baris keramik berikutnya.
9.     Biarkan selama satu setengah hari agar mortar perekat keramik mengering.
10.  Lakukan pengisian nat dengan grout. Grout merupakan mortar (semen) yang digunakan untuk mengisi kekosongan atau celah keramik.
11.  Bersihkan kelebihan grout dengan menggunakan spons basah.

4.3 Penggunaan Keramik pada Interior
10 Macam Modifikasi Keramik Batu Alam dalam Desain Interior
Stoneware Tiles atau keramik dengan tampilan seperti batu alam memang menjadi salah satu permata dalam desain interior modern saat ini. Mengapa? Karena efek batu alam selalu dapat memberikan tampilan yang canggih dan elegan. Keramik batu alam banyak dipilih karena tampilannya yang sangat mirip dengan aslinya namun memiliki harga yang lebih terjangkau tanpa memerlukan perawatan yang spesial ataupun sulit dibanding dengan batu alam asli.
Dengan teknologi material dan produksi yang semakin maju, juga didorong oleh desainer yang selalu berinovasi untuk mendapatkan desain keramik yang selalu baru dan unik. Dewasa kini, keramik batu alam pun telah memiliki banyak variasi warna dan model yang dapat memenuhi apapun kebutuhan furnishing sesuai preferensi atau selera desain anda.
1. Keramik Batu Alam dengan Motif Limestone  yang Cerah

Gambar 4.2 motif keramik yang cerah


Warna cerah Limestone merupakan salah satu warna keramik batu alam yang banyak digunakan dalam desain modern karena tampilannya yang tidak lekang oleh waktu. Untuk menciptakan atmosfir yang cerah dengan gaya rustic, modern dan natural seperti ini, model keramik batu alam limestone cocok di kombinasikan dengan material lain seperti polished concrete  pada dinding ataupun ekspos bata putih, dan dilengkapi dengan beberapa furniture kayu sebagai aksen agar ruangan tidak terlihat pucat dan tetap hangat.
2. Urat Batu Gelap dan Tegas pada Keramik Batu Alam Slate

Gambar 4.3 motif keramik warna gelap
Berbeda dengan limestoneslate stone  merupakan jenis batu dengan urat yang lebih kasar dan warna yang lebih gelap. Keramik batu alam motif slate stone sangat tepat digunakan sebagai elemen dekoratif baik itu bagi lantai ataupun dinding. Elemen dekoratif keramik batu alam yang memiliki sedikit efek tiga dimensi dapat menonjolkan karakter warna dan tekstur batu itu sendiri. Menciptakan suasana ruang yang harmonis dan nyaman saat anda beristirahat.
3. Gaya Industrial yang Anggun

Gambar 4.4 motif keramik yang anggun
Keramik batu alam juga memiliki ragam model dengan tekstur dan efek warna yang unik. Keramik batu alam yang heterogen ini akan menciptakan kesan yang autentik yang sesuai dengan anda yang menyukai tren gaya kontemporer. Jika dipadukan dengan material lain dengan efek unfinished seperti dinding bata ataupun material besi, dapat membuat keseluruhan desain menampilkan gaya industrial yang matang. Warna yang kemerahan-abu ini membuat ruangan menjadi lebih artistik. Keramik batu alam yang cocok untuk ruang- ruang interior publik seperti boutik ataupun cafĂ©.
4. Keramik Batu Alam Untuk Dinding Sekaligus Lantai

Gambar 4.5 keramik untuk dinding sekalin keramik
Ada beberapa orang yang menganggap bahwa keramik dinding dan lantai harus berbeda jenis dan modelnya agar desain ruang tidak monoton ataupun membosankan. Pada praktiknya, pernyataan ini tidak sepenuhnya benar karena tidak berlaku untuk keseluruhan jenis desain dan material. Keramik batu alam adalah salah satu tipe keramik yang tepat untuk dijadikan material penutup dinding sekaligus lantai, jika pemilihan warnanya tepat dan kombinasi perabotnya juga cocok. Warna-warna pucat dan netral seperti abu-abu dan putih yang memiliki tekstur dan urat adalah salah satunya. Anda dapat bermain pada ukuran slab keramik batu alam ini dan komposisi pemasangannya dapat dibedakan antara dinding, lantai, dan juga tangga. Misalnya komposisi persegi pada lantai dan komposisi susunan bata pada dinding.
5. Finishing Furniture dengan Keramik Batu Alam

Gambar 4.6 finishing furniture dengan keramik batu alam
Selain sebagai material penutup bagian- bagian ruang utama seperti lantai dan dinding, keramik batu alam ternyata juga dapat digunakan untuk finishing built-in furniture loh! Pintu kabinet dan laci- laci yang selain fungsional sebagai tempat penyimpanan juga menambah nilai estetik pada ruangan anda. Seperti misalnya ruang kerja atau kantor anda. Keramik batu alam dengan slab besar dapat menyesuaikan dengan ukuran bagian depan laci atau pintu kabinet anda untuk nanti nya dipotong sesuai kebutuhan. Jangan lupa memilih keramik batu alam yang tidak terlalu tebal agar tidak berat, juga pilihlah fitting laci dari besi yang cukup kuat.
6. Keramik Batu Alam + Warna – Warna Primer
Gambar 4.7 keramik batu alam warna warna primer
Penggunaan warna-warna primer seperti kuning, merah ataupun biru sebagai aksen ruang sudah dikenal sejak Theo van Doesburg yang adalah seorang seniman dan Piet Mondrian, seorang arsitek, memperkenalkan gaya De Stijl  pada tahun 1917-1930. Walaupun tren ini tidak populer dalam waktu yang lama, gaya ini tetaplah ikonik dan konsep aksen warna primer dalam interior ataupun arsitektur masih sering diadaptasi dalam desain modern saat ini.. Seperti penggunaan keramik batu alam dengan warna netral dan membumi seperti coklat muda yang dikombinasikan dengan furnitur ataupun kabinet warna kuning dan merah sebagai aksen yang membuat tampilan ruang menjadi hidup dan dinamis. Keramik batu alam yang bertekstur plus aksen warna polos, sempurna!
7. Keramik Batu Alam Tekstur Denim
Gambar 4.8 keramik tekstur denim
Tekstur denim pada keramik batu alam merupakan ide yang sangat kreatif untuk meninggalkan kesan berat ataupun industrial bagi ruangan anda. Keramik batu alam dengan tekstur denim ini dapat menjadi elemen dekoratif bagi dinding foyer anda ataupun backsplash dapur anda. Memberikan kesan yang fresh dan youthful, keramik batu alam ini dapat menciptakan suasana ruang yang cerah  namun tetap hangat. Cocok juga digunakan untuk studio tempat anda bekerja karena warna – warna yang tidak pucat dan tidak terlalu menonjol dipadu permainan komposisi dan bentuk keramik seperti ini dipercaya dapat menstimulasi kerja otak dan meningkatkan kreatifitas loh!



8. Gaya Medieval  dan Efek Karat Keramik Batu Alam
Gambar 4.9 keramik medieval dan efek karat
Gaya interior medieval merupakan gaya yang mengacu pada tahun 500-1400 SM. Merupakan gaya yang biasanya ada pada bangunan-bangunan katedral ataupun kastil yang klasik. Penyesuaian gaya seperti ini pada bangunan modern adalah penggunaan material batu alam yang dramatis, kayu yang kaya tekstur dan bukaan yang lengkung. Keramik batu alam dengan efek karat seperti ini dapat menjadi pilihan material yang dramatis. Keramik batu alam dengan efek karat pada tone warna yang lebih terang untuk lantai dan efek karat yang lebih gelap untuk dinding. Dapat dikombinasikan dengan finishing cat warna copper, ungu ataupun putih untuk menambah dan juga menyeimbangkan kesan dramatis tersebut. Gaya seperti ini dapat dicapai dengan desain plafon yang tinggi.
Pemilihan fabric upholstery untuk sofa ataupun kursi lainnya juga cenderung menggunakan warna – warna yang deep seperti bronze, gold ataupun ungu dan biru. Ataupun warna cerah namun material fabric velvet (beludru).
9. Keramik Batu Alam Motif Grafik yang Modern

Gambar 4.9 keramik motif grafik yang modern
Anda juga dapat berkeksplorasi dengan keramik batu alam yang tidak polos ataupun bertekstur namun memiliki motif grafik seperti ini. Keramik batu alam karya desainer Jepang ini sangat menonjolkan bentuk yang sederhana dengan gradasi warna yang juga simple, namun dapat menghasilkan keseluruhan desain yang menarik dan unik. Motif tiles yang tidak tipikal satu sama lain walaupun masih dalam bentuk desain yang sama, dengan kombinasi dua warna yang berbeda yang tetap terlihat harmoni satu sama lain. Anda dapat menyeimbangkannya dengan finishing cat pada dinding yang berdekatan dengan pilihan tone yang sama. Keramik batu ala mini dapat dijadikan material keseluruhan yang dominan ataupun sebagai aksen.
10. Efek Tiga Dimensi Keramik Batu Alam sebagai Elemen Dekoratif
Keramik batu alam dengan efek tiga dimensi sangat cocok anda gunakan sebagai elemen dekoratif untuk menambah nilai desain interior anda. Efek tiga dimensi dapat mempercantik keseluruhan ruang dan memberi efek estetik yang memanjakan mata. Pilih warna keramik batu alam yang netral, membumi ataupun hangat seperti warna – warna cream ataupun peach. Keramik batu alam dengan model timbul seperti ini telah banyak dipasarkan juga dengan pilihan desain bentuk yang berbeda–beda. Pilih yang paling sesuai dengan karakter dan kesukaan anda. Jangan lupa untuk mengkombinasikannya dengan material lain yang polos namun dalam satu warna yang sama untuk desain yang lebih natural, namun dapat juga anda memilih warna-warna yang kontras untuk menciptakan desain yang lebih berani dalam hal permainan warna.
4.4 penggunaan Keramik pada Exsterior

Hardrock, Keramik Sekeras Batu yang Cocok untuk Eksterior

Keramik merupakan elemen rumah yang penting. Jika pada umumnya keramik mudah pecah, kini ada Hardrock yang diklaim sekeras batu.
 Hardrock, produk dari Keramik Roman ini dibuat dari campuran material yang berasal dari alam. Ketebalannya 20 mm dengan berat 600 kg.
 Hardrock lebih keras daripada beton, sehingga lebih awet, tidak mudah menyerap kotoran, dan mudah dibersihkan.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
·        Happy
·        Inspire
·        Confuse
·        Sad

"Warnanya tidak mudah berubah karena pengaruh cuaca (paparan sinar matahari) dan mampu bertahan sepanjang masa," ujar General Manager Marketing PT Satya Langgeng Sentosa Jimin Suman, ditemui di Jakarta Convention Center (JCC), 

Hardrock memiliki ukuran 30x30 cm dan 60x60 cm. Ukuran tersebut memudahkan pengaturan aliran air hujan dan memungkinkan dipola atau ditata sesuai kebutuhan desain arsitektur urban kontemporer.

Sebagai subtitusi batu, Jimin mengatakan Hardrock cocok digunakan untuk area eksterior atau outdoor. Misalnya, jalur pedestrian, area parkir, perkerasan jalan, pelataran gedung, jalur pejalan kaki di taman, maupun mini garden.

Keunggulan Hardrock ialah tidak licin jika sedang hujan. "Keramik ini anti licin. Permukaan keramiknya mirip seperti batu, tidak rata," kata Jimin.

Hardrock ditujukan untuk segmen menengah ke atas. Alasannya, konsumen menengah ke atas memerlukan keramik yang sangat kuat dengan desain yang indah.

Keramik Indoor dan Outdoor

Saat ini, Hardrock dirilis untuk eksterior atau outdoor. Ke depan, Keramik Roman juga akan memproduksi Hardrock untuk area indoor.

"Untuk keperluan indoor, kami akan bikin lebih halus. Namun untuk outdoor, (model yang sekarang), sudah cocok banget," ujar Jimin.

Hardrock ditujukan bagi segmen menengah atas. Mereka mengincar perusahaan, building owner, maupun hunian pribadi.

"Kami yakin pasarnya ada. Area outdoor itu harus finish. Pembangunan gedung juga harus diselesaikan jalur pedestriannya untuk lalu lalang. Kami harapkan Hardrock bisa menjadi pilihan baru bagi arsitek profesional," kata Jimin.













BAB 5 Penutupan
5.1 Kesimpulan
Keramik merupakan suatu bentuk dari tanah liat yang telah mengalami proses pembakaran yang pada umumnya terbuat dari tanah liat, kwarsa, feldsfar, dan serbukkaca. Sifat keramik ditentukan oleh struktur kristal, komposisi kimia dan mineral bawaannya yang secara umum meiliki sifat :
1. Keras, kuat, tetapi bersifat getas atau mudah pecah.
2. Tahan terhadap korosi.
3. Kapasitas panas yang baik dan konduktivitas panas yang rendah.
4. Sifat listriknya dapat menjadi isolator, semikonduktor, konduktor bahkansuperkonduktor.
5.Dapat bersifat magnetik dan non magnetik.
Keramik biasanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga seperti mangkok, piring,cangkir, teko, tempayan dll. Atau keramik yang digunakan untuk bahan bangunan, seperti batu-bata, genteng keramik, tegel keramik , pipa-pipa keramik untuk pembuangan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar